Tiba-tiba
di jalan ada sesuatu yang aneh terjadi, aku hanya terdiam karena hal aneh itu
sudah tidak aneh bagiku. Tercium aroma kuat dari seduhan kopi hitam pekat
melebihi pekatnya malam. Ku seruput kopi
itu sedikit demi sedikit, entah mengapa
kopi buatan tetangga lebih nikmat dari buatan sendiri, mungkin karena kita
tidak perlu mengeluarkan modal untuk menikmatinya. Dia pun keluar dan menyapaku
dengan sapaan khasnya tapi terlihat sedikit marah, maklum mungkin akibat
kopinya yang ku seruput sudah hampir berubah menjadi butiran pasir.
Kami
memutuskan untuk keluar mencari tambahan orang yang memiliki visi dan misi yang
sejalan dengan kami, langkah kami pun terhenti saat melewati warung kecil itu, tatapan
tajamnya tertuju ke arah kami seakan kami adalah santapannya. Ternyata dia
adalah orang yang kami cari walaupun visi dan misinya sedikit berbeda tetapi
dengan adanya dia di kelompok kami akan memberikan dampak yang sangat luar
biasa karena dia memiliki hal yang tidak dimiliki oleh kami yaitu kekuatan isi
dompetnya. Dia pun bergabung dan kami bertiga melanjutkan perjalanan dalam
mencari orang keempat yang memiliki visi dan misi yang sejalan dengan kami.
Setelah
1 jam kami melakukan pencarian, akhirnya kami memutuskan untuk menju ke tempat
dimana seharusnya kami tidak kesana, ya tempat itu adalah pos satpam. Kami bertiga
beristirahat sejenak. Aku memandang langit berharap keajaiban datang, kedua
temanku melakukan ritual pembakaran kretek untuk melakukan pembalasan terhadap
apa yang dilakukan oleh pabrik rokok terhadap masyarakat. “Pucuk di cinta
ulampun tiba”, seseorang dengan rambut panjang dan tinggi 182cm berjalan
melewati pos satpam dia tidak lain dan tidak bukan adalah orang keempat yang
kami cari. Tanpa perlu dijelaskan maksud kami dia langsung tahu apa yang ingin
kami lakukan, alhasil dia pun bergabung dengan kelompok kami dan lengkaplah
posisi “The Zombie Four”.
Untuk
melaksanakan visi misi kami, ada beberapa hal yang harus dilengkapi yaitu
keberadaan orang kelima, ya orang kelima ini adalah orang yang memiliki
kemampuan dan daya tahan diatas ke empat anggota lain. Dan kami berempat hanya
tahu satu orang yang cocok untuk dijadikan orang kelima dalam “The Zombie Four”,
tidak lain dan tidak bukan dia adalah ketua remaja karang taruna di tempat
kami.
Melalui perjalanan yang panjang melewati perkebunan jambu kelutuk milik pak haji Somad, dengan tekad dan keyakinan tinggi kami menuju tempat ketua remaja karang taruna, sepanjang perjalanan kami menemukan hal-hal yang ganjil seperti perut lapar, bibir pahit, dehidrasi yang berlebihan tapi kami tetap melanjutkan perjalanan sampai ke tempat tujuan. 15 menit dan sampailah kami ke tempat tujuan, sapaan dan jamuan khas dari sang ketua membuat semua keganjilan yang kami alami hilang seketika. Ya benar saja bermacam-macam gorengan sudah ada di piring yang bermotif bunga dan cabe rawit yang bernaung di mangkok yang bermotif ayam jago, tak lupa kretek yang siap untuk ritual pembakaran. tidak sampai disitu kumpulan jenis kopi dan hangatnya teh yang telah tersaji di dalam ceret alumunium pun melengkapi indahnya jamuan untuk menghilangkan keganjilan yang kami alami.
Lengkap sudah semua syarat dan ketentuan untuk melaksanakan visi misi kami. kami biasa menyebutnya "Renungan Malam". Kami keluarkan satu kotak kartu dan mulai kami bagikan ke setiap anggota kecuali sang ketua, karena dia bertugas mencatat administrasi dari setiap kegiatan yang kami lakukan. Untuk kegiatan awal kami mulai dengan "CAPSA", untuk pemanasan sangat bagus karena tidak terlalu menguras pikiran. seteah kegiatan awal selesai dan pikiran kami mulai fokus barulah kita mulai "Renungan Malam" yang sesungguhnya, yaitu "REMI" atau biasa disebut "Cekian".
Sampai disini dulu cerita tentang "Renungan Malam", Next time saya akan menceritakan tentang "SATU MALAM DIMANA LBIH CEPAT DARI MALAM LAINNYA".
Sampai disini dulu cerita tentang "Renungan Malam", Next time saya akan menceritakan tentang "SATU MALAM DIMANA LBIH CEPAT DARI MALAM LAINNYA".